Masa kecilku aku habiskan disebuah daerah kecil, jauh dari kepadatan dan hiruk pikuk kota, apalagi polusi, panas…aku bahkan hampir tidak mengenalinya. Daerah tempat tinggalku itu sangat nyaman, sejuk, damai dan tentram. Disanalah aku menghabiskan masa kecilku sampai akhirnya kini aku berada di Kota polusi ini.
Teman kecilku yang pertama, tak kan pernah kulupa sampai sekarang. Kami bertetangga dulunya, rumahnya disebelah rumahku tapi ketika ayahnya ditugaskan untuk menjabat posisi yang lebih penting dikantor dia harus pindah kerumah yang lebih besar dari rumah sebelumnya, untung saja masih satu komplek perumahan denganku dan jaraknya tidak begitu jauh sehingga kami tetap bisa bermain bersama.
Namanya Nanda. Setiap hari sepulang sekolah seperti sebuah ritual pokoknya kami harus berjumpa, aku yang kerumahnya atau dia yang kerumahku. Padahal kami satu kelas dan otomatis disekolahpun kami selalu bertemu, pergi dan pulang sekolah bersama – sama. Permainan yang paling kami gemari adalah membuat kelompok-kelompok kecil,otomatis karena aku yang mecari personil maka aku yang menjadi ketua kelompok begitu juga dengannya, awalnya aku menolak untuk jadi ketua, gak seru tapi dia memaksaku dan akhirnya karena aku tidak boleh kalah dengannya aku terpaksa mau. Aku bertugas mencari kawan-kawan perempuan lain untuk dibuat satu kelompok bermain, dan dia mencari kawan laki-lakinya untuk dibuat kelompok juga dan setelah terkumpul masing-masing kelompok akan mencari suatu tempat yang bisa dijadikan markas, kami memanfaatkan pohon-pohon mangga yang tumbuh dikomplek dan kebetulan pohon itu tidak terlalau tinggi untuk anak usia 7 tahun seperti kami. Dipohon itu masing-masing dari kami mencari dahan untuk posisi masing – masing setelah selesai pohon-pohon itu kami hias sebagus mungkin, dibuat gantungan – gantungan kupu-kupu atau burung-burung dari kertas warna, dan sebagainya. Terakhir kami memberi nama masing – masing kelompok, nama kelompoknya adalah “Jungle Fun” dan aku “Friendship”. Kami sama-sama tidak tau artinya saat itu, maklumlah kemampuan bahasa Inggris kami masih sangat dangkal, hanya mencontek nama itu dari cover buku tulis AA.
Berteman dengannya mempunyai kenangan tersendiri, aku paling marah dibilang tomboy saat itu walaupun aku mengakui kini saat itu aku memang tomboy. Tapi dia tidak pernah mengatakan aku tomboy, padahal semua permainan kelaki-lakiannya sudah aku ikuti; memanjat, main bola kaki adalah makananku sehari-hari bersamanya. Saat ini permainan kelompokku dengannya mengajari suatu hal bagiku, bahwa kita harus siap menjadi seorang pemimpin minimal bagi diri sendiri. Dia bahkan dalam usia tujuh tahun sudah bisa memimpin kelompok bermain kami dan mampu merekrut banyak anggota.
Ketika kelas lima SD dia harus mengikuti ayahnya yang pindah tugas. Jelas aku harus berpisah dengannya, mulanya aku tidak patah semangat aku tetapmengajak kawan-kawan kelompokku untuk bermain dan belajar bersama-sama dimarkas kami dan kelompoknya sudah berganti ketua. Tapi lama-lama aku kehilangan semangat dan kelompok itupun bubar. Menginjak SMP aku harus pindah kekota ini dan kami berpisah sampai sekarang. Kabar terakhir yang kudengar dia sudah bekerja di kantor perikanan di Jakarta.
Banda Aceh, 30 April 2009
Teman dekatku semasa kecil
Kan ku kenang tak kan kulupa
Move On
13 tahun yang lalu

1 komentar:
cerita ini dibuat waktu mw ikut pelatihan menulis FLP Aceh
Posting Komentar